Selasa, 08 April 2014

legenda bunigeulis kec hantara

Desa Bunigeulis pada awalnya hanyalah merupakan sebuah kampung dengan nama kampung Karang Sari, termasuk pada wilayah desa Tundagan. Desa Bunigeulis menjadi desa Definitif kurang lebih pada tahun 1823.
Semenjak menjadi desa definitip sampai sekarang telah terjadi pergantian Kepala Desa ( Kuwu ) sebanyak 15 kali Definitif dan 4 kali Pejabat Sementara. Adapun susunan Kepala Desa ( Kuwu ) dan Pejabat Sementara Kepala Desa/Kueu.dari pertama sampai sekarang tersebut adalah sebagai berikut
1. 1823-…… Jayadiraksa,
2. ……-…… Natawijaya,
3. ……-…… Tidak diketahui namanya,
4. ……-…… Tidak diketahui namanya,
5. ……-…… Yakub (Saung),
6. ……-…… Suhada,
7. ……-…… Tidak diketahui namanya ( Orang Tua Kerta Atmaja Ahmad Kuwu ke-9 ),
8. 1921-1925 Karyawilastra ( Orang Tua Danu Saputra Kuwu ke-11 ),
9. 1925-1960 Kerta Atmaja Ahmad,
10. 1960-1968 Wiraatmaja Dulgani,
11. 1968-1977 Danu Saputra,
12. 1977-1979 Natasasmita Sudja’i ( Pjs )
13. 1979-1987 Sukandi,
14. 1987-1988 Jaham ( Pjs)
15. 1988-1997 Makdi,
16. 1997-1998 K. Sumpena ( Pjs )
17. 1998-2006 Durahman.
18. 2006-2007 Adi Puryadi ( PJs )
19. 2007-…… Mistam
Kata “ BUNIGEULIS “ bahasa kirata yaitu kata “ anu geulis di bunikeun “ ( wanita cantik yang disembunyikan), menurut para tokoh masyarakat legenda desa Bunigeulis adalah sebagai berikut :
“ Pada Zaman dahulu ada sebuah kampung yang bernama Karang sari, dengan jumlah rumah sebanyak 20 bangunan, orang yang pertama tinggal menetap dikampung tersebut ada dua orang yaitu “ Buyut Gedut dan Aki Lasah “. Pada suatu hari ke kampung Karang sari datang seorang wanita yang sangat cantik. Kecantikan wanita itu tiada bandingannya, sehingga setiap orang yang melihatnya akan terpesona, selain wajahnya yang sangat cantik wanita tersebut memiliki rambut yang amat panjang, sehingga ketika menyisir rambutnya hars dibantu dengan sebuah galah ( gantar ) dari bambu untuk menyangganya.

Setelah tiba dikampung Karang sari wanita tersebut langsung menemui Ki Buyut gedut dan Aki Lasah. Kedua orang tersebut menanyakan maksud dan tujuan, asal-usul serta nama wanita tersebut.
Wanita tersebut menjelaskan bahwa ia berkeinginan tinggal dan menetap dikampung Karang sari. Mengenai asal usul ia menerangkan tidak tahu kedua orang tuanya, dimana ia tinggal, ia hanya menjelaskan bahwa namanya Nyai Ratu Sekar Paton ( Nyi Mas Sekar Paton ).
Buyut gedut dan Aki Lasah menerima kedatangan Nyai Ratu Sekar Paton. Nyai Ratu Sekar Paton sendiri tinggal di rumah Aki Lasah.
Alkisah kecantikan Nyai Ratu Sekar Paton terkenal kemana-mana, bahkan sampai ke Keraton Sultan Cirebon dan Keraton Mataram.
Sultan Cirebon setelah mendengar bahwa dikampung Karang sari ada wanita yang sangat cantik, beliau mengutus kepercayaannya untuk meminang wanita tersebut.
Orang pertama yang diberu kepercayaan untuk meminang Nyai Ratu Sekar Paton adalah Lebe Leteng.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh dan sulit akhirnya sampailah Lebe Leteng tersebut ke kampung Karang sari. Lebe Teteng tersebut menyampaikan maksud dan tujuan kepada Nyai Ratu Sekar Paton. Akan tetapi lamarannya ditolak karena Nyai Ratu Sekar Paton tersebut belum berniat untuk berumah tangga.

Karena tugasnya tidak berhasil akhirnya Lebe leteng memutuskan untuk tidak kembali ke kasultanan Cirebon dan tinggal menetap di kampung Karang sari. Kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh Lebe Leteng di kampung Karang sari adalah mengajarkan membaca Al Qur’an kepada masyarakat setempat. Setelah meninggal Dunia Lebe Leteng dimakamkan dipemakaman Mbah Modin. Peninggalan Lebe Leteng sampai sekarang masih ada berupa satu rumpun pohon bambu ( dekat rumah bapak Saphari ).
Karena Lebe Leteng tidak kembali lagi, maka Sultan Cirebon mengutus lagi kepercayaannya yang bernama Mbah Modin. Seperti utusan yang terdahulu maka Mbah modinpun gagal melaksanakan tugas dari Sultan Cirebon, sehingga beliau memutuskan untuk tidak kembadi dan tinggal menetap di kampung Karang sari.
Kegiatan Mbah Modin di kampung Karang sari adalah menjadi imam dilanggar dan menjadi bengkong ( Juru sunat ). Bukti peninggalan Mbah Modin sampai saat ini masih ada berupa “ Padasan “ atau semacam Guci berukir . Padasan tersebut berfungsi sebagai alat mengambil air untuk berwudlu. Sampai saat ini benda tersebut tetap ada tersimpan di mesjid
desa Bunigeulis.
Setelah meninggal dunia Mbah Modin dimakamkan di pemakaman Mbah Modin yang sampai saat ini tetap terawat dengan baik.

Sultan Cirebon karena karena kedua kalinya tidak kembali lagi, maka beliau mengutus lagi kepercayaannya yang bernama Buyut Sangar, Utusan inipun sama seperti utusan terdahulu yang gagal melaksanakan tugas dari Sultan Cirebon. Setelah tinggal menetap di kampung Karang sari Buyut Sangar memberikan didikan keamanan dan ketertiban kampung tersebut sampai akhir hayatnya. Makam Buyut Sangar terletak di pemakaman Umum Astana Deukeut.

Walaupun telah tiga kali mengirim utusan dan menemui kegagalan, namun Sultan Cirebon tidak pernah putus asa beliau mengutus lagi kepercayaan yang bernama Pangeran Sindang Kalangan. Misi yang diemban oleh Pangeran Sindang Kalangan sama seperti utusan terdahulunya dan mengalami hal yang sama yaitu gagal melaksanakan tugas yang di emban, sehingga beliaupun tidak mau kembali dan tinggal menetap di kampung Karang sari sampai akhir hayatnya. Dalam kegiatan sehari harinya Pangeran Sindang Kalangan memberikan didikan di bidang pertanian terutama tanaman padi. Setelah meninggal Pangeran sindang Kalangan dimakamkan di Astana Deukuet sebelah barat.

Utusan terakhir dari Sultan Cirebon untuk meminang Nyai RatuSekar paton adalah bernama Buyut Rurah. Buyut Rurahpun gagal melaksanakan tugas. Akhirnya beliaupunmemutuskan untuk tidak kembali dan tinggal menetap di kampung Karang sari. Setelah menetap di kampung Karang sari beliau diangkat menjadi kepala kampung dengan sebutan Rurah. Selain memimpin kampung dalam kesehariannya beliaupun mengajarkan seni bela diri.

Seperti apa yang diutarakan tadi, bahwa kecantikan paras Nyai Ratu Sekar Paton sangat cantik hingga tersebar sampai ke Keraton Mataram. Mendengar berita tentang adanya wanita cantik, Sultan Mataram tergugah hatinya serta berniat untuk melamar dan mempersunting wanita tersebut.
Pada suatu hari Sultan Mataram memberikan tugas kepada Patihnya bernama “Bayan” untuk meminang Nyai Ratu Sekar Paton. Sebelum berangkat Sultan Mataram tersebut beramanat kepada Patih Bayan, walau bagaimanapun wanita tersebut harus dapat dibawa ke keraton Untuk menambah rasa percaya diri maka Sultan Mataram memberikan sebilah keris yang bernama keris “ Kalamujeng “.
Setelah melalui perjalanan yang cukup jauh dan sulit, maka Patih Bayan tersebut sampai di kampung Karang sari.

Patih Bayan tersebut setelah bertemu Nyai Ratu Sekar Paton beliau mengutarakan maksud dan tujuannya.
Nyi Ratu Sekar Paton setelah mendengar maksud dan tujuan Patih Bayan beliau menjawab tidak ada / belum ada niat berumah tangga. Dijelaskan pula bahwa calon suaminya nanti sesudah berdiri sebuah negara yang dipimpin oleh seseorang yang bergelar Ratu Adil Danarasa.
Mendengar penolakan dari Nyai Ratu Sekar Paton tersebut, Patih Bayan merasa tersinggung perasaannya dan bersitegang untuk membawa Nyai Ratu Sekar Paton tersebut ke Keraton Mataram.
Dikarenakan musyawarah dengan cara damai tidak dapat tercapai, akhirnya terjadilah perkelahian sengit antara Nyai Ratu Sekar Paton dengan Patih Bayan dipekarangan rumah Aki Lasah yang dimana Nyai Ratu Sekar Paton menetap.

Dinding rumah Aki Lasah terbuat dari anyaman bambu yang berbentuk kepang tanjeur, serta pekarangan rumah dipagar dengan bambu bentuk pagar kandang jaga. Pada waktu perkelahian sengit dan lahan sangat sempit rambut Nyai Ratu Sekar Paton yang sangat panjang terbelit pada dinding rumah dan pagar. Melihat kejadian tersebut Patih Bayan berkeyakinan akan segera dapat menngkap dan membawa Nyai Ratu Sekar Paton. Namun kenyataan pada waktu Partih Bayan akan menagkap Nyai Ratu Sekar Paton, dengan sigap Nyai Ratu Sekar Paton meloncat ke udara. Pada waktu meloncat ke udara dinding rumah beserta pagar kandang jaga terangkat karena tersangkut oleh rambut Nyai Ratu Sekar Paton.

Patih Bayanpun tidak tinggal diam dan langsung melompat keudara dan terjadi lagi perkelahian sengit di udara. Pada waktu Patih Bayan hampir berhasil menangkap rambut Nyai Sekar Paton yang dibebani pagar kandang jaga dan dinding rumah dengan cekatan menginjakkan kaki di tanah.
Setelah Nyai Ratu Sekar Paton menginjakan kaki ditanah beliau berkata : “ Wahai anak cucuku aku berpesan kepada kalian, nama Karang sari agar berganti nama menjadi Bunigeulis dan tidak boleh membuat pagar kandang jaga serta diding rumah dari bilik bambu berbentuk kepang tanjeur ”.
Setelah mengucapkan pesan tersebut beliau menantang kembali Patih Bayan untuk meneruskan perkelahian. Mendengar tantangan tersebut Patih Bayan segera menginjakan kaki ditanah. Pada waktu saling berhadapan Nyai Sekar Paton berkata, “ hai Patih Bayan, kalau benar-benar Sang Patih benar-benar laki-laki yang sakti mandraguna, mari kita teruskan perkelahian
didalam tanah “. Selesai mengucapkan kata-kata tersebut tadi, Nyai Ratu Sekar Paton langsung masuk kedalam tanah ( Nerus Bumi ).
Bekas masuknya Nyai Ratu Sekar Paton kedalam tanah didekat sebuah pohon yang bernama kilampayan. Patilasan tempat masuknya Nyai Sekar Paton kedaalam tanah terletak di blok Karang Peundeuy. Sampai sekarang tempat tersebut masih ada dan tetap terpelihara dengan baik. Sejak peristiwa tersebut kampung Karang sari berubah menjadi Bunigeulis.

Warga Bunigeulis menganggap bahwa Nyai Ratu Sekar Paton adalah leluhur mereka. Pesan itu sampai saat ini tetap ditaati, yakni pantang membuat pagar kandang jaga dan bilik dinding dengan bentuk kepang tanjeur.
Pemeliharaan makam-makam keramat diantaranya Patilasan Nyai Ratu Sekar Paton secara rutin tetap dipelihara oleh warga Desa Bunigeulis.
Itulah sekelumit legenda Desa Bunigeulis, Wallahu alam bisabab hanya Tuhan Yang Maha Esa yang Maha Tahu.

wisata di palutungan

JALAN-JALAN ke Kabupaten Kuningan, orang biasanya akan menyempatkan diri untuk singgah di beberapa tempat yang selama ini sudah dikenal sebagai ikon wisata daerah tersebut. Sebut saja situs sejarah Linggarjati, pemandian air panas Sangkanhurip, kolam hikan Cibulan dan Cigugur, Waduk Darma, atau Talaga Remis.

Di luar nama-nama yang sudah populer di atas, Kuningan juga masih menyimpan objek wisata yang jika ditata dan dipromosikan lebih baik, bisa menjadi daerah tujuan wisata andalan. Salah satunya adalah daerah Palutungan, yang oleh beberapa kalangan sering disebut-sebut sebagai ”Lembang”-nya Kab. Kuningan. Hanya, untuk para wisatawan luar daerah, Palutungan masih belum dikenal.
Selama ini, nama Palutungan sebenarnya cukup menjadi tempat favorit untuk berkemah dan rendezvous anak-anak muda. Tiap akhir pekan dan liburan, Palutungan selalu dipadati para remaja dan anak-anak sekolah yang datang dari Kabupaten Kuningan, Majalengka, Cirebon, bahkan Tegal (Jawa Tengah). Mereka ke sana untuk berkemah selama satu atau dua hari. Sebagian lagi sekadar mencari suasana bersama kekasih.
Belakangan, Palutungan juga menjadi area outbound dan gathering dengan kelengkapan memadai untuk melatih ketangkasan dan uji nyali, seperti flying fox. Fasilitas umumnya juga relatif sudah lengkap seperti tempat parkir yang luas, toilet, sarana ibadah, warung jajanan, pusat informasi, hingga area botram yang nyaman. Untuk keperluan komunikasi, sinyal telefon seluler dari sejumlah operator tergolong cukup kuat, sehingga sangat membantu wisatawan.

Terletak di punggung Gunung Ciremai (gunung tertinggi di Jawa Barat) pada ketinggian 1.100 meter di atas permukaan air laut (mdpl), Palutungan mampu memberi sensasi tersendiri. Di Palutungannya sendiri, kita bisa menikmati suasana alam khas pegunungan, perpaduan antara kesejukan udara, jejeran pohon pinus merkusi, dan kicau burung yang hinggap di dahan pepohonan. Semuanya bisa membuat pikiran segar kembali.
Pemandangan khas lainnya yang dijumpai di Palutungan adalah seringnya kabut turun menyelimuti kawasan tersebut. Selimut kabut itu datang nyaris tak mengenal waktu atau musim. Baik pagi, siang, sore, maupun malam, kabut bisa tiba-tiba turun. Memang turunnya kabut kerap menciptakan suasana horor dan magis. Namun, pada saat yang sama juga menampilkan pemandangan spektakuler yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

DOK./"PRLM"Jika ingin menikmati permainan air, kita juga tak perlu repot karena tak jauh dari lokasi perkemahan, terdapat sebuah curug (air terjun) yang cukup indah pemandangannya. Air terjun yang lebih dikenal sebagai Curug Putri itu terletak di lembah sebelah timur dan hanya berjarak sekitar lima ratus meter dari area perkemahan. Curug Putri termasuk area favorit yang banyak dikunjungi remaja dan keluarga.
Salah satu daya tarik curug setinggi delapan meter itu adalah adanya kepercayaan bahwa air curug tersebut mengandung khasiat obat, khususnya rematik dan penyakit tulang. Ada juga yang percaya, air Curug Putri yang bersumber dari mata air di gunung Ciremai itu bisa mengobati 1.001 macam penyakit. Di samping itu, air curug juga dipercaya memiliki khasiat mempermudah dapat jodoh. Jika orang sering mandi dan membasuh muka dengan air Curug Putri, orang itu dipercaya bakal segera dapat jodoh.
Nama Curug Putri itu sendiri berasal dari legenda yang menyebutkan bahwa tempat itu merupakan pemandian para putri dari kahyangan, tempat para bidadari turun ke bumi. Saat ada hujan gerimis dan matahari bersinar, dari Curug Putri kita bisa melihat bentang pelangi yang diyakini oleh sebagian masyarakat sebagai jembatan bagi turunnya para bidadari nan cantik jelita dari kahyangan ke bumi.
Tidaklah mengherankan jika banyak pengunjung yang datang ke Curug Putri sengaja membiarkan tubuhnya tertumbuk air terjun, berendam, dan menceburkan diri ke dalam kolam yang dibuat berundak-undak, atau sekadar membasuh muka dengan air curug. ”Ya, itu kan hanya mitos. Saya sendiri mandi air terjun bukan untuk cari jodoh, tetapi karena seneng aja,” tutur Mulyana, remaja asal Kecamatan Cipicung, Kab. Kuningan.

Selain itu, Palutungan juga diklaim sebagai tempat terbaik untuk bisa menyaksikan pemandangan indah dan spektakuler. Hal itu dimungkinkan karena dari Palutungan kita bisa menyapu pandang ke tempat-tempat yang ada di posisi lebih bawah. Ke arah timur, kita bisa menyaksikan Kota Kuningan dan daerah-daerah sekitarnya. Ke arah selatan, Waduk Darma dengan genangan airnya bisa kita nikmati. Ke arah barat, kita bisa menyaksikan sebagian Majalengka. Sementara ke arah utara, kita bisa melihat Laut Jawa dan Pantai Cirebon.

Berlokasi di Kampung Malaraman, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Palutungan relatif mudah untuk dijangkau. Jalanan beraspal yang tak terlalu lebar, cukup memadai untuk dilalui berbagai jenis kendaraan, baik roda dua maupun empat. Dari Kota Kuningan, sebelum sampai di Palutungan, pengunjung akan melewati dua objek wisata yang selama ini sudah dikenal yakni pemandian Cigugur dan Goa Maria Cisantana.

Untuk mencapai lokasi yang berjarak sekitar sembilan kilometer ke arah barat dari Kota Kuningan itu, para pengunjung harus melewati jalan yang berkelok dan mendaki. Oleh karena itu, para pengunjung dituntut ekstra hati-hati, terutama saat musim hujan. Selain beberapa ruas cukup terjal dan jalan tak terlalu lebar, saat musim hujan, jalanan relatif licin.
Saat menuju Palutungan, karena jalanan menanjak, pengendara (sepeda motor dan mobil) mesti sering ”bermain” dengan gigi rendah. Sebaliknya, saat pulang dari Palutungan, karena menurun, pengendara harus sering-sering menginjak rem. Dengan kondisi seperti itu, jika ingin ke Palutungan, sangat disarankan menggunakan kendaraan yang bugar dan dalam kondisi baik. Sebaiknya dihindari penggunaan kendaraan jenis sedan.

Meskipun demikian, bagi sebagian pengunjung, kondisi jalanan yang berkelok-kelok, justru menghadirkan sensasi tersendiri. Di samping bisa menikmati kelokan jalan, selama perjalanan ke Palutungan, kita akan menikmati aroma khas pegunungan, yakni berupa harum segar aroma daun bawang, wortel, seledri, dan beragam jenis sayuran, yang campur aduk dengan ”aroma” kotoran kerbau/sapi yang digunakan petani untuk memupuk lahan mereka.

 Wana Wisata Palutungan

Keadaan umum
Luas wisat Palutungan adalah 9.3ha terletak di RPH Cigugur BKPH Linggarjati, KPH Kuningan. Secara administrasi pemerintahan terletak di Kecamatan kuningan, Kabupaten Kuningan.

Wana wisata ini terletak pada ketinggian 1.100-1150m dpl, konfigurasi lapangan umumnya berbukit. Kawasan ini mempunyai curah hujan 3.000mm/tahun dengan suhu udara 24-27C

Potensim kawasan
Wana wisata ini terdiri dari 9ha hutan tanaman (pinus merkusi), sumber air yang ada berupa mata air gejala alam/ potensi visual lansekap didalam kawasan yang mempunyai karakteristik khas adalah hutan tanaman.


Potensi Wisata
WAna wisata ini digunakan untuk wisata harian dan wisata berkemah. Kegiatan wisata harian yang dapat dilakukan adalah piknik dan olahraga volley ball.

Fasilitas
Jenis fasilitas yang ada adalah loket karcis, papan petunjuk, pusat informasi, instalasi air, shelter, tempat parkir, tempat duduk, MCK, lapangan uparan, lapangan volley, umumnya fasilitas tersebut dalam keadaan kurang terawat.

Aksesbilitas
Wana wisata ini dapat dicapai dari Kecamatan Cigugur (8km) Kabupaten Kuningan (11km). Kondisi jalan umumnya baik (beraspal), dapat dilalui kendaraan roda empat.

 Yang pasti, udara Palutungan memang menyegarkan dan menyehatkan. Apalagi bagi kita yang hidup di kota, di mana keseharian kita tak bisa lepas dari kontaminasi polusi yang membahayakan kesehatan.