Semenjak menjadi desa definitip sampai sekarang telah terjadi pergantian Kepala Desa ( Kuwu ) sebanyak 15 kali Definitif dan 4 kali Pejabat Sementara. Adapun susunan Kepala Desa ( Kuwu ) dan Pejabat Sementara Kepala Desa/Kueu.dari pertama sampai sekarang tersebut adalah sebagai berikut
1. 1823-…… Jayadiraksa,
2. ……-…… Natawijaya,
3. ……-…… Tidak diketahui namanya,
4. ……-…… Tidak diketahui namanya,
5. ……-…… Yakub (Saung),
6. ……-…… Suhada,
7. ……-…… Tidak diketahui namanya ( Orang Tua Kerta Atmaja Ahmad Kuwu ke-9 ),
8. 1921-1925 Karyawilastra ( Orang Tua Danu Saputra Kuwu ke-11 ),
9. 1925-1960 Kerta Atmaja Ahmad,
10. 1960-1968 Wiraatmaja Dulgani,
11. 1968-1977 Danu Saputra,
12. 1977-1979 Natasasmita Sudja’i ( Pjs )
13. 1979-1987 Sukandi,
14. 1987-1988 Jaham ( Pjs)
15. 1988-1997 Makdi,
16. 1997-1998 K. Sumpena ( Pjs )
17. 1998-2006 Durahman.
18. 2006-2007 Adi Puryadi ( PJs )
19. 2007-…… Mistam
Kata “ BUNIGEULIS “ bahasa kirata yaitu kata “ anu geulis di bunikeun “ ( wanita cantik yang disembunyikan), menurut para tokoh masyarakat legenda desa Bunigeulis adalah sebagai berikut :
“ Pada Zaman dahulu ada sebuah kampung yang bernama Karang sari, dengan jumlah rumah sebanyak 20 bangunan, orang yang pertama tinggal menetap dikampung tersebut ada dua orang yaitu “ Buyut Gedut dan Aki Lasah “. Pada suatu hari ke kampung Karang sari datang seorang wanita yang sangat cantik. Kecantikan wanita itu tiada bandingannya, sehingga setiap orang yang melihatnya akan terpesona, selain wajahnya yang sangat cantik wanita tersebut memiliki rambut yang amat panjang, sehingga ketika menyisir rambutnya hars dibantu dengan sebuah galah ( gantar ) dari bambu untuk menyangganya.
Setelah tiba dikampung Karang sari wanita tersebut langsung menemui Ki Buyut gedut dan Aki Lasah. Kedua orang tersebut menanyakan maksud dan tujuan, asal-usul serta nama wanita tersebut.
Wanita tersebut menjelaskan bahwa ia berkeinginan tinggal dan menetap dikampung Karang sari. Mengenai asal usul ia menerangkan tidak tahu kedua orang tuanya, dimana ia tinggal, ia hanya menjelaskan bahwa namanya Nyai Ratu Sekar Paton ( Nyi Mas Sekar Paton ).
Buyut gedut dan Aki Lasah menerima kedatangan Nyai Ratu Sekar Paton. Nyai Ratu Sekar Paton sendiri tinggal di rumah Aki Lasah.
Alkisah kecantikan Nyai Ratu Sekar Paton terkenal kemana-mana, bahkan sampai ke Keraton Sultan Cirebon dan Keraton Mataram.
Sultan Cirebon setelah mendengar bahwa dikampung Karang sari ada wanita yang sangat cantik, beliau mengutus kepercayaannya untuk meminang wanita tersebut.
Orang pertama yang diberu kepercayaan untuk meminang Nyai Ratu Sekar Paton adalah Lebe Leteng.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh dan sulit akhirnya sampailah Lebe Leteng tersebut ke kampung Karang sari. Lebe Teteng tersebut menyampaikan maksud dan tujuan kepada Nyai Ratu Sekar Paton. Akan tetapi lamarannya ditolak karena Nyai Ratu Sekar Paton tersebut belum berniat untuk berumah tangga.
Karena tugasnya tidak berhasil akhirnya Lebe leteng memutuskan untuk tidak kembali ke kasultanan Cirebon dan tinggal menetap di kampung Karang sari. Kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh Lebe Leteng di kampung Karang sari adalah mengajarkan membaca Al Qur’an kepada masyarakat setempat. Setelah meninggal Dunia Lebe Leteng dimakamkan dipemakaman Mbah Modin. Peninggalan Lebe Leteng sampai sekarang masih ada berupa satu rumpun pohon bambu ( dekat rumah bapak Saphari ).
Karena Lebe Leteng tidak kembali lagi, maka Sultan Cirebon mengutus lagi kepercayaannya yang bernama Mbah Modin. Seperti utusan yang terdahulu maka Mbah modinpun gagal melaksanakan tugas dari Sultan Cirebon, sehingga beliau memutuskan untuk tidak kembadi dan tinggal menetap di kampung Karang sari.
Kegiatan Mbah Modin di kampung Karang sari adalah menjadi imam dilanggar dan menjadi bengkong ( Juru sunat ). Bukti peninggalan Mbah Modin sampai saat ini masih ada berupa “ Padasan “ atau semacam Guci berukir . Padasan tersebut berfungsi sebagai alat mengambil air untuk berwudlu. Sampai saat ini benda tersebut tetap ada tersimpan di mesjid
desa Bunigeulis.
Setelah meninggal dunia Mbah Modin dimakamkan di pemakaman Mbah Modin yang sampai saat ini tetap terawat dengan baik.
Sultan Cirebon karena karena kedua kalinya tidak kembali lagi, maka beliau mengutus lagi kepercayaannya yang bernama Buyut Sangar, Utusan inipun sama seperti utusan terdahulu yang gagal melaksanakan tugas dari Sultan Cirebon. Setelah tinggal menetap di kampung Karang sari Buyut Sangar memberikan didikan keamanan dan ketertiban kampung tersebut sampai akhir hayatnya. Makam Buyut Sangar terletak di pemakaman Umum Astana Deukeut.
Walaupun telah tiga kali mengirim utusan dan menemui kegagalan, namun Sultan Cirebon tidak pernah putus asa beliau mengutus lagi kepercayaan yang bernama Pangeran Sindang Kalangan. Misi yang diemban oleh Pangeran Sindang Kalangan sama seperti utusan terdahulunya dan mengalami hal yang sama yaitu gagal melaksanakan tugas yang di emban, sehingga beliaupun tidak mau kembali dan tinggal menetap di kampung Karang sari sampai akhir hayatnya. Dalam kegiatan sehari harinya Pangeran Sindang Kalangan memberikan didikan di bidang pertanian terutama tanaman padi. Setelah meninggal Pangeran sindang Kalangan dimakamkan di Astana Deukuet sebelah barat.
Utusan terakhir dari Sultan Cirebon untuk meminang Nyai RatuSekar paton adalah bernama Buyut Rurah. Buyut Rurahpun gagal melaksanakan tugas. Akhirnya beliaupunmemutuskan untuk tidak kembali dan tinggal menetap di kampung Karang sari. Setelah menetap di kampung Karang sari beliau diangkat menjadi kepala kampung dengan sebutan Rurah. Selain memimpin kampung dalam kesehariannya beliaupun mengajarkan seni bela diri.
Seperti apa yang diutarakan tadi, bahwa kecantikan paras Nyai Ratu Sekar Paton sangat cantik hingga tersebar sampai ke Keraton Mataram. Mendengar berita tentang adanya wanita cantik, Sultan Mataram tergugah hatinya serta berniat untuk melamar dan mempersunting wanita tersebut.
Pada suatu hari Sultan Mataram memberikan tugas kepada Patihnya bernama “Bayan” untuk meminang Nyai Ratu Sekar Paton. Sebelum berangkat Sultan Mataram tersebut beramanat kepada Patih Bayan, walau bagaimanapun wanita tersebut harus dapat dibawa ke keraton Untuk menambah rasa percaya diri maka Sultan Mataram memberikan sebilah keris yang bernama keris “ Kalamujeng “.
Setelah melalui perjalanan yang cukup jauh dan sulit, maka Patih Bayan tersebut sampai di kampung Karang sari.
Patih Bayan tersebut setelah bertemu Nyai Ratu Sekar Paton beliau mengutarakan maksud dan tujuannya.
Nyi Ratu Sekar Paton setelah mendengar maksud dan tujuan Patih Bayan beliau menjawab tidak ada / belum ada niat berumah tangga. Dijelaskan pula bahwa calon suaminya nanti sesudah berdiri sebuah negara yang dipimpin oleh seseorang yang bergelar Ratu Adil Danarasa.
Mendengar penolakan dari Nyai Ratu Sekar Paton tersebut, Patih Bayan merasa tersinggung perasaannya dan bersitegang untuk membawa Nyai Ratu Sekar Paton tersebut ke Keraton Mataram.
Dikarenakan musyawarah dengan cara damai tidak dapat tercapai, akhirnya terjadilah perkelahian sengit antara Nyai Ratu Sekar Paton dengan Patih Bayan dipekarangan rumah Aki Lasah yang dimana Nyai Ratu Sekar Paton menetap.
Dinding rumah Aki Lasah terbuat dari anyaman bambu yang berbentuk kepang tanjeur, serta pekarangan rumah dipagar dengan bambu bentuk pagar kandang jaga. Pada waktu perkelahian sengit dan lahan sangat sempit rambut Nyai Ratu Sekar Paton yang sangat panjang terbelit pada dinding rumah dan pagar. Melihat kejadian tersebut Patih Bayan berkeyakinan akan segera dapat menngkap dan membawa Nyai Ratu Sekar Paton. Namun kenyataan pada waktu Partih Bayan akan menagkap Nyai Ratu Sekar Paton, dengan sigap Nyai Ratu Sekar Paton meloncat ke udara. Pada waktu meloncat ke udara dinding rumah beserta pagar kandang jaga terangkat karena tersangkut oleh rambut Nyai Ratu Sekar Paton.
Patih Bayanpun tidak tinggal diam dan langsung melompat keudara dan terjadi lagi perkelahian sengit di udara. Pada waktu Patih Bayan hampir berhasil menangkap rambut Nyai Sekar Paton yang dibebani pagar kandang jaga dan dinding rumah dengan cekatan menginjakkan kaki di tanah.
Setelah Nyai Ratu Sekar Paton menginjakan kaki ditanah beliau berkata : “ Wahai anak cucuku aku berpesan kepada kalian, nama Karang sari agar berganti nama menjadi Bunigeulis dan tidak boleh membuat pagar kandang jaga serta diding rumah dari bilik bambu berbentuk kepang tanjeur ”.
Setelah mengucapkan pesan tersebut beliau menantang kembali Patih Bayan untuk meneruskan perkelahian. Mendengar tantangan tersebut Patih Bayan segera menginjakan kaki ditanah. Pada waktu saling berhadapan Nyai Sekar Paton berkata, “ hai Patih Bayan, kalau benar-benar Sang Patih benar-benar laki-laki yang sakti mandraguna, mari kita teruskan perkelahian
didalam tanah “. Selesai mengucapkan kata-kata tersebut tadi, Nyai Ratu Sekar Paton langsung masuk kedalam tanah ( Nerus Bumi ).
Bekas masuknya Nyai Ratu Sekar Paton kedalam tanah didekat sebuah pohon yang bernama kilampayan. Patilasan tempat masuknya Nyai Sekar Paton kedaalam tanah terletak di blok Karang Peundeuy. Sampai sekarang tempat tersebut masih ada dan tetap terpelihara dengan baik. Sejak peristiwa tersebut kampung Karang sari berubah menjadi Bunigeulis.
Warga Bunigeulis menganggap bahwa Nyai Ratu Sekar Paton adalah leluhur mereka. Pesan itu sampai saat ini tetap ditaati, yakni pantang membuat pagar kandang jaga dan bilik dinding dengan bentuk kepang tanjeur.
Pemeliharaan makam-makam keramat diantaranya Patilasan Nyai Ratu Sekar Paton secara rutin tetap dipelihara oleh warga Desa Bunigeulis.
Itulah sekelumit legenda Desa Bunigeulis, Wallahu alam bisabab hanya Tuhan Yang Maha Esa yang Maha Tahu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar